Membeli Kebahagiaan: Mitos atau Kenyataan?

Share This Post

Banyak orang beranggapan bahwa uang adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan. Mereka berpikir bahwa dengan memiliki uang yang cukup, mereka bisa membeli segala sesuatu yang membuat mereka bahagia. Namun, apakah benar kebahagiaan bisa dibeli?

Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Elizabeth Dunn dan Michael Norton menemukan bahwa kebahagiaan memang bisa dibeli, tetapi tidak dengan cara yang umum dipikirkan. Mereka menemukan bahwa menggunakan uang untuk membeli pengalaman, seperti berlibur atau menghadiri konser, lebih meningkatkan kebahagiaan daripada membeli barang-barang yang bersifat material.

Hal ini terkait dengan konsep kebahagiaan sejati, yang tidak dapat dibeli dengan uang. Kebahagiaan sejati terkait dengan hubungan sosial, merasa dihargai, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Oleh karena itu, lebih baik memperhatikan aspek-aspek ini daripada hanya memfokuskan diri pada membeli barang-barang yang mahal.

Buku “The How of Happiness” karya Sonja Lyubomirsky juga menyebutkan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang lebih penting daripada uang untuk mencapai kebahagiaan sejati, seperti rasa syukur, keberanian untuk mencari makna hidup, dan keterampilan sosial yang baik.

Dalam kesimpulannya, membeli kebahagiaan memang bisa dilakukan, tetapi bukan dengan cara yang umum dipikirkan. Uang hanya bisa memberikan kebahagiaan sementara, tetapi kebahagiaan sejati terkait dengan aspek-aspek lain seperti hubungan sosial, rasa dihargai, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Oleh karena itu, lebih baik memperhatikan aspek-aspek ini daripada hanya memfokuskan diri pada membeli barang-barang yang mahal.

Sumber:

  • Dunn, E. W., & Norton, M. I. (2013). Happy money: The science of smarter spending. Simon and Schuster.
  • Lyubomirsky, S. (2007). The how of happiness: A scientific approach to getting the life you want. Penguin.

NMA-CENTER.COM
KAMPUNGSURGA.ID